Thursday, January 22, 2015

Museum Sasmita Loka



MUSEUM SASMITA LOKA

PANGLIMA BESAR JENDERAL SUDIRMAN








Rumah yang terletak di Jalan Bintaran Wetan no.3 Yogyakarta, merupakan bekas kediaman Panglima Besar Jenderal Sudirman yang sekarang menjadi Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sasmitaloka dalam bahasa Jawa berarti tempat untuk mengingat, mengenang. Museum ini merupakan tempat untuk mengenang pengabdian dan pengorbanan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Gedung yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1890 ini memiliki mempunyai sejarah yang sangat panjang. Di awal berdirinya, bangunan bersejarah ini diperuntukkan bagi pejabat keuangan Pura Paku Alam VII, Tuan Winschenk. Pada masa penjajahan Jepang bangunan dikosongkan dan barang-barangnya disita.
Pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, dipakai sebagai Markas Kompi Tukul dari batalion Suharto. Sejak tanggal 18 Desember 1945 sampai 19 Desember 1948, menjadi kediaman resmi Jenderal Sudirman setelah menjadi Panglima Tertinggi TKR. Selanjutnya saat Agresi Belanda II digunakan oleh Belanda sebagai Markas IVG Brigade T dan setelah kedaulatan Republik Indonesia tanggal 27 Desember 1949, berturut-turut digunakan sebagai kantor Komando Militer Kota Yogyakarta, kemudian dipakai untuk asrama Resimen Infantri XIII dan penderita cacat. Tanggal 17 Juni 1968 dipakai untuk Museum Pusat Angkatan Darat, sebelum akhirnya diresmikan sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman pada tanggal 30 Agustus 1982.
Dari tanggal 31 Agustus 1982 sampai sekarang sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman.


A.    Kehidupan Panglima Besar Jenderal Sudirman 

Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Karisidenan Banyumas menjadi saksi lahirnya seorang bocah kecil pada hari senin pon tanggal 24 Januari 1916. Ayahnya Karsid Kartawiraji dan Siyem, ibu yang melahirkan memberikannya nama Sudirman. Sedangkan ayah angkatnya Raden Cokro Sunaryo menambahkan nama Raden di depan nama Sudirman.
Menjalani pendidikan formal di Taman Siswa, lalu melanjutkan pendidikan di HIK Muhammadiyah Solo. Pada tahun 1934 Raden Sudirman yang juga aktif dalam Organisasi Kepanduan Islam Hizbul Wathon, menjadi Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah di Cilacap. Sebagai Kepala Sekolah, beliau bersikap terbuka, mau mendengarkan pendapat orang lain serta selalu siap memberi jalan pemecahan terhadap setiap masalah yang timbul di kalangan para guru. Selain menjadi Kepala Sekolah, beliau juga menjadi tenaga pengajar di Sekolah Menengah Muhammadiyah Cilacap.

Karir militer Sudirman atau Pak Dirman (panggilan akrab Beliau sewaktu bergerilya) diawali ketika mengikuti latihan perwira tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Selesai mengikuti latihan, Pak Dirman diangkat menjadi Daidancho (Komandan Daidan setara Batalyon) di Banyumas.
Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pasukan Jepang dipaksa menyerahkan senjata kepada tentara Indonesia oleh pihak sekutu. Ketidakrelaan Jepang menyerahkan inventaris negara, berubah menjadi baku tembak yang menelan banyak korban dari kedua belah pihak. Tetapi beda halnya dengan Banyumas. Berkat kearifan Pak Dirman (saat itu telah diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel) dalam berunding, tidak ada darah yang tertumpah dalam proses penyerahan senjata. Atas segala jasa dan prestasinya, Pak Dirman yang dinilai teguh hati, lemah lembut tutur katanya, dan bersikap kebapakan dalam mengayomi para bawahan, terpilih menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 12 Nopember 1945, dan dilantik pada tanggal 18 Desember 1945, lewat pelantikan presiden.
Walaupun aat itu Pak Dirman masih sangat muda, dalam usia 29 tahun beliau sudah mampu menjadi pemimpin yang cepat mengambil keputusan, serta langsung ditindaki dengan tegas. Prestasinya mempersatukan berbagai laskar ke dalam tubuh ketentaraan, pada tanggal 3 juni 1947, pangkat Jenderal tetap diembankan kepada Beliau setelah TKR menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) sebelum akhirnya menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI)
Perjalanan Panglima Besar Jenderal Sudirman untuk menempati posisi tertinggi APRI pada tanggal 3 Juni 1947 melewati banyak peperangan. Mulai dari perang kemerdekaan melawan Jepang hingga mendesak mundur pasukan Sekutu ke Semarang pada tanggal 15 Desember 1945 dari Ambarawa (Palagan Ambarawa). Setelah menjabat Panglima Besar APRI, Jenderal Sudirman tidak langsung berpangku tangan. Meski dalam keadaan sakit dan harus ditandu oleh bawahannya, Beliau tetap bergerilya melawan Belanda. Mulai dari Agresi Militer I hingga mengatur taktik perang pada Agresi Militer II yang dijalaninya dengan berpindah-pindah. Perjalanan sejauh lebih dari 1000 km selama enam bulan itu akhirnya berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Roem Royen. Panglima Besar ini akhirnya kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

Setelah proklamasi 17 agustus 1949 diperingati di Gedung Agung Yogyakarta, setelah kepulangan Soekarno-Hatta dari pulau Bangka pada tanggal 6 Juli 1949 dan kepulangan Pangsar Jenderal Sudirman dari perjalanan gerilya Beliau pada tanggal 10 Juli 1949.
Tanggal 27 Desember berdasarkan Konfrensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Sayangnya Pangsar Jenderal Sudirman tidak dapat menyaksikan hasil perjuangannya lebih lanjut. Kuman tuberkulosis yang semakin parah menggerogoti paru-paru Beliau setelah berbulan-bulan keluar masuk hutan, akhirnya mengalahkan Panglima Besar itu. 29 Januari 1950 di Rumah Peristirahatan Tentara Badakan, Magelang, Pangsar Jenderal Sudirman menghembuskan nafas terakhirnya. Jasadnya kini disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Pesan beliau "Anak-anakku, Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga"  tetap terpatri di dada anak buahnya dan sudah sewajarnyalah kita generasi muda meneladani beliau yang berjuang tanpa pamrih demi tercapainya Indonesia merdeka bebas dari belenggu penjajahan.

 

B.     Bagian-bagian Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman 

Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki 599 benda koleksi dari jenis logam, kayu, kulit, kertas, dan kain yang dipamerkan dalam 14 ruangan.
Memasuki Museum Sasmitaloka dari pintu utara, pengunjung akan melihat Prasasti Pangsar Jenderal Sudirman. Sementara itu di halaman depan bangunan induk Monumen Pangsar Jenderal Sudirman berdiri dengan gagahnya. Monumen tersebut berupa patung Pak Dirman yang sedang menunggangi kuda dengan tulisan di keempat sisinya. Sementara di sisi utara monumen terdapat satu senjata mesin, dan sebuah meriam di sisi selatannya.

Ruang-ruang Pameran :
1.      Ruang Tamu (1), sesuai namanya di Ruang ini Pak Dirman menerima tamu-tamu, baik tamu keluarga maupun pejabat. Dipamerkan dua perangkat meja kursi berbentuk munton sederhana beralaskan babut, dua buah lampu gantung, Riwayat hidup dari Pak Dirman, dua buah patung setengah badan Pak Dirman, tanda pangkat, kaca mata, Bintang Jasa dan Satya Lencana.

2.      Ruang Santai (2), disamping ruang keluarga, ruang ini dipergunakan Pak Dirman untuk membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia. Di ruang ini dipamerkan beberapa benda koleksi antara lain : radio merk Philips, foto-foto, lukisan, dan barang pecah belah yang pernah dipergunakan keluarga Pak Dirman.















3.      Ruang kerja (3), di ruang ini Pak Dirman menyelesaikan tugas-tugasnya dan mengatur kebijaksanaan perjuangan TNI. Benda-benda koleksi yang dipamerkan di ruang ini seperti : Pesawat telepon, meja kursi kerja dan tamu, almari arsip, replica keris yang senantiasa dibawa Pak Dirman ketika memimpin gerilya, pedang samurai, senapan IE, pistol, piagam penghargaan dan tanda jasa.

4.  Ruang tidur tamu (4), tamu-tamu Pak Dirman baik keluarga maupun rekan-rekan seperjuangan jika ingin bermalam maupun istirahat di ruang ini. Mereka diperlakukan dengan baik, tidak dibeda-bedakan sehingga betah tinggal di rumah Pak Dirman. Benda-benda koleksi yang dipamerkan antara lain : tempat tidur, almari pakaian, kursi tamu, dan foto-foto keluarga Pak Dirman.

5.   Ruang Tidur Pangsar (5), di ruang ini dipergunakan pak Dirman sebagai kamar tidur dan tidak jarang sebagai tempat sholat beliau, lukisan Pak Dirman dan Ibu Dirman, mesin jahit merk Singer serta patung lilin Pak Dirman duduk di kursi mengenakan  pakaian, jaket mantel, ikat kepala dan sandal.

6.   Ruang tidur Putra-putri Pangsar (6), bersebelahan dengan ruang tidur Pak Dirman. Dari perkawinan dengan Siti Alfiah, Pak Dirman dikarunai 7 orang anak. Dipamerkan seperangkat tempat tidur dan lain-lain.

7.      Ruang Sekretariat (7), ketika Pak Dirman bertempat tinggal di rumah jabatan sebelah kanan, bangunan dipergunakan sebagai ruang sekretatiatan, sekarang dipergunakan menyimpan benda koleksi sejarah yang erat hubungannya dengan pemilihan jabatan Panglima Besar TKR, seperti seperangkat meja kursi yang pernah dipakai Letnan Kolonel Isdiman sewaktu mengusulkan kolonel Sudirman dipilih dan diangkat menjadi Panglima Besar TKR dihadapan Pak Urip Sumoharjo dan Pak Gatot Subroto. Koleksi lainnya yaitu sumpah anggota pimpinan Tentara yang diucapkan Panglima Besar Jenderal Sudirman.

8.   Ruang Palagan Ambarawa (8), pertempuran Ambarawa terjadi antara TKR dan para pejuang Republik Indonesia menghadapi tentara sekutu. Dibawah pimpinan Kolonel Sudirman, TKR berhasil mengusir tentara Sekutu dari Kota Magelang, Ambarawa, sampai Semarang tanggal 15 Desember 1945. dipamerkan maket dan peta pertempuran Ambarawa dan dua buah SMR.

9.      Ruang Rumah Sakit Panti Rapih (9), Panglima Besar Jenderal Sudirman senantiasa bekerja keras tidak mengenal waktu, mulai terganggu kesehatannya, yang diserang paru-paru dan salah satunya harus dioperasi. Ditengah situasi Angkatan Perang RI sedang menumpas pemberontakan PKI di  Madiun tahun  1948, Pak Dirman menjalani operasi di rumah sakit panti rapih Yogyakarta. Dalam keadaan sakit beliau tetap bekerja mengatur dan menyusun rencana militer dengan para perwira lainnya sekalipun dengan duduk dikursi roda. Benda koleksi berupa seperangkat tempat tidur yang pernah dipakai Pak Dirman ketika opname di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta.














10.  Ruang Koleksi Kendaraan (10), perjalanan gerilya mulai dari Yogyakarta sampai kediri Jawa Timur, Pak Dirman pernah naik dokar/andong, mobil, dan dibawa dengan tandu. Koleksi dokar yang dipamerkan adalah yang pernah dinaiki Pak Dirman dari daerah Playen menuju Semanu (Gunung Kidul). Tidak ditarik kuda melainkan oleh para pengawal beliau sendiri yaitu Kaptem Cokropanolo dan Kapten Suparjo Rustam. Mobil yang dipamerkan adalah mobil Chevrolet Styemaster buatan USA yang pernah dipergunakan untuk menjemput Pak Dirman di tepi sungai Oya sekembali dari medan gerilya ke Ibu kota RI Yogyakarta tanggal  10 Juli 1949. mobil tersebut juga sebagai kendaraan dinas beliau.

11. Ruang Koleksi Gunung Kidul/Sobo (11), sewaktu bergerilya Pak Dirman singgah di Semanu Gunung Kidul dan Sobo Pacitan. Di Sobo inilah Pak Dirman melaksanakan tugas sebagai Panglima Besar secara teratur serta memantau perkembangan situasi ibu kota RI Yogyakarta terutaa akan, saat, dan akhir Serangan Umum 1 Maret 1949.
Benda koleksi yang dipamerkan : balai-balai, meja dan kursi, peraltan makan dan minum, padasan, maket gerilya Jenderal Sudirman di Sobo, tempat tidur, dan lukisan susasana gerilya.

12.  Ruang Diorama (12), terdapat 3 buah diorama yang menggambarkan sebagai berikut :
a.Diorama pertama, menggambarkan perjuangan Pak Dirman pada saat Belanda melancarkan agresinya yang kedua tanggal 19 Desember 1948.
b.Diorama kedua, menggambarkan situasi selama Pak Dirman melaksanakan dan memimpin gerilya.
c.Diorama ketiga, menggambarkan situasi selama Pak Dirman melaksanakan tugas-tugasnya sebagai Panglima Besar di Markas gerilya Sobo Pacitan.
d.Disamping koleksi Diorama, di ruang 12 dipamerkan tandu, tongkat, dan peta route gerilya.  

13. Ruang Koleksi pribadi (13), di ruang ini dipamerkan beberapa benda yang pernah dipergunakan Pak Dirman seperti : Mantel, ikat kepala, pakaian opsir Peta, pakaian tidur, sepatu, tas, radio, dan lukisan.

14.  Ruang Dokumentasi (14), Ruang ini diisi dengan biodata Pak Dirman, foto-foto sewaktu beliau menjabat sebagai Panglima Besar, bergerilya dan suasana duka saat pemberangkatan dan pemakaman jenazah Panglima Besar Jenderal Sudirman di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara Yogyakarta, Surat-surat tulisan tangan Presiden RI. Ir. Soekarno kepada Pak Dirman, serta tulisan tangan Pak Dirman kepada Adiknya Moch. Samingan dan beberapa koleksi dari Hotel Inna Garuda Yogyakarta seperti pakaian-pakaian seragamn dan kelengkapan yang pernah dipergunakan Pak Dirman.     

 











Keberadaan Museum Sasmita Loka panglima Besar Jenderal Sudirman dititik beratkan pada pengenalan, penggambaran dan pewarisan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman kepada generasi penerus bangsa Indonesia. Selain itu bertujuan agar generasi muda penerus bangsa Indonesia terpatri di dalam dadanya nilai-nilai TNI’45.

Dharma Wiratama



MUSEUM PUSAT TNI ANGKATAN DARAT

 ”DHARMA WIRATAMA”



Pemberian nama museum ”Dharma Wiratama” mempunyai arti yaitu Dharma maksudnya perbuatan baik, sedangkan wiratama berarti prajurit utama. Kesimpulannya Dharma Wiratama adalah pengabdian semua kebaikan atau perbuatan luhur yang disumbangkan oleh prajurit utama TNI AD di bidang HANKAM baik senjata maupun amal bhaktinya di bidang non HANKAM kepada bangsa dan negara.
Keberadaan Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama dirintis oleh Dinas sejarah Angkatan Darat sejak tahun 1956 yang bernama Sejarah Militer Angkatan Darata (SMAD). Membangun museum Pusat TNI AD di Yogyakarta mengingat kota ini sebagai ibu kota negara masa perjuangan 1945. Rencana ini disetujui Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan
diijinkannya penggunaan Ndalem Brontokusuman 24 Yogyakarta sejak tahun 1959, kemudian dilanjutkan dengan Surat Keputusan Kasad Nomor Keputusan 760/9/1959 tanggal 8 September 1959 tentang pengesahan Museum TNI AD.
Tanggal 17 Juni 1968 lokasi museum dipindahkan ke gedung bekas tempat tinggal Pangsar Jenderal Sudirman, namun gedung tersebut direncanakan sebagai Museum Sasmitaloka Pangsar Jenderal Sudirman, guna mengabadikan riwayat hidup dan perjuangan beliau. Selanjutnya akan dipindahkan ke bangunan Benteng Vredeburg, tetapi gedung tersebut akan digunakan sebagai taman budaya. Alternatif berikutnya menggunakan gedung bekas Makorem 72/Pamungkas, pemilihan ini didasarkan faktar sejarah TNI AD di mana gedung tersebut pernah digunakan sebagai markas besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di masa perang kemerdekaan sebagai museum pusat TNI AD dengan nama ”Dharma Wiratama”. Sesuai surat perintah nomor Spin/823/V/1980 tanggal 27 Mei 1980 tentang pengesahan gedung bekas Korem 72/pamungkas Museum Pusat TNI AD, maka pada tanggal 29 Mei 1980 jam 10.00 WIB dilakukan serah terima dari Pangdam VII/Diponegoro kepada Kadisjarahad di Yogyakarta.
Sebelum 15 Agustus 1985 pengelolaan Geduang oleh Dinas Sejarah TNI AD, tetapi sejak Surat Keputusan Kasad Nomor Kep/25/VII/1985 tanggal 15 Agustus 1985 tentang likuidasi Dinas Serajah TNI AD menjadi Dinas Pembinaan Mental TNI Angkatan Darat (Disbintalad), maka pengelolaan oleh unit kerja Bagmuseum Subdisbin Musmontra Disibintalad.


Gedung Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama mempunyai nilai historis yang tinggi. Dibangun tahun 1904 pada masa pemerintahan Hindia Belanda merupakan tempat tinggal pejabat administratur perkebunan Belanda yang membawahi wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Pada pendudukan Jepang 1942 gedung tersebut dipergunakan sebagai markas tentara Jepang di daerah Yogyakarta disebut Syudokan.
Pada pemerintahan Republik Indonesia  (awal kemerdekaan) gedung ini dijadikan markas tinggi TKR (MT TKR/MBT). Kemudian tanggal 12 November 1945 sebagai tempat konferensi TKR dan memiliki Kolonel Sudirman Komandan Divisi V Kedu/Banyumas sebagai Panglima Besar TKR.
Perkembangannya gedung tersebut dijadikan markas Korem 72/Pamungkas dan sebagai saksi bisu peristiwa penculikan Danrem 72/Pamungkas Kolonel Inf. Katamso dan Kasrem 72/Pamungkas Letkol Inf. Sugiyono oleh pemerintak G 30 S PKI 1965 di Yogyakarta.

A.    Bagian-bagian Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama

Benda koleksi Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama berjumlah 4.236 benda koleksi dari jenis logam, kayu, kulit, kertas, dan kain yang dipamerkan dalam 20 ruangan.
Ruang-ruang :
1.       Ruang Pengantar (1), tempat mengantar pemikiran para pengunjung untuk memahami nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemderdekaan. Benda yang dipamerkan : lukisan Kasad tahun 1947 Kol GPH Djati Kusumo sampai sekarang (2007), sejarah kronologis perlawanan bangsa Indonesia penjajah (1511-1945), sejarah kronologis perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut menegakkan dan mengisi kemerdekaan (1945-1979), skema perkembangan dan perjuangan TNI AD. Serta prasasti tanda diresmikan Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama tahun 1982 oleh Kasad Jenderal TNI Poniman.


2.       Ruang Pangsar Jenderal Sudirman (2): Konferensi TKR pada 12 November 1945 telah memilik Kolonel Sudirman sebagai Panglima Besar TKR, kemudian tanggal 18 Desember 1945 Presiden Sukarno melantiknya di Istana Yogyakarta. Benda yang dipamerkan adalah benda-benda yang dipergunakan pada waktu itu seperti meja kursi, pesawat telepon, meja kursi tamu dan wastafel.
3.       Ruang Letjen Oerip Sumoharjo (3) : beliau diangkat sebagai Kepala Staf Umum MT TKR pada tanggal 15 Oktober 1945, sedangkan Panglima TKR adalah Shodanco Supriyadi. Semenjak diangkat tidak diketahui rimbanya maka diangkatlah Oerip Sumoharjo sebagai Kepala Staf Umum TKR mendampingi Kolonel Sudirman yang terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Benda-benda yang dipamerkan : meja kursi,pesawat telepon dan meja kursi tamu.


4.       Ruang Palagan (4) : menggambarkan sejarah perjuanagn bangsa Indoensia untuk mempela dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dari ancaman bangsa asing yang akan menjajah kembali. Pertempuran melawan Sekutu (Belanda, Australia, Inggris), dan Jepang yang tidak menghormati kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Beberapa pertempuran/palagan diantaranya :
Palagan Medan, disebut Medan Area pada bulan Oktober 1945 sampai agresi Belanda petama 21 Juli 1947.
Palagan Palembang, disebut Pertempuran 5 hari 5 malam di sepanjang sungai Musi tanggal 1 sampai dengan 5 Januari 1947.
Palagan Bandung, disebut Bandung lautan Api pada akhir Nopember 1945 sampai dengan  24 Maret 1946.
Palagan Semarang, disebut Pertempuran 5 hari di Semarang melawan Jepang pada tanggal 15 sampai dengan 19 Oktober 1945.
Palagan Ambarawa,  yang diawali dikuasainya kota Ambarawa pada tanggal 15 Desember 1945.
Palagan Surabaya, merupakan puncak pertempuran arek-arek Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945 yang sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Palagan Bali, dikenal Perang Puputan atau  Marga Rana yaitu bertempur sampai titik darah penghabisan pada tanggal 20 Nopember 1946.
Palagan Makassar, dikenal dengan korban 40.000 jiwa pada bulan Oktober 1945 sampai dengan April 1946 sebagai akibat kekejaman Belanda.

5.       Ruang Senjata Modal Perjuangan Kemerdekaan (5) : dipamerkan berbagai senjata sebagai modal perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan.Senjata-senjata berupa senjata tradisional seperti bambu runcing, tombak, keris, kelewang, panah, ganco, petel, ketapel, dan lain-lainnya. Senjata-senjata buatan sendiri seperti granat gamyok, stengun, meriam kecepek, senjata rampasan dari Jepang dan Belanda seperti granat nanas, pistol mouser dan sebagainya. 

6.       Ruang dapur umum (6) : menampilkan dapur umum yang dipergunakan untuk memasak makanan oleh rakyat untuk membantu logistik bagi para pejuang yang berada di garis depan pertempuran.Peralatan sangat sederhana seperti kukusan, dandang, kekep, tenggok dan sebagainya. Dapur umum dilengkapi dengan alat komunikasi berupa kentongan yang berfungsi sebagai alat menghubungkan pengumpulan massa serta tanda bila ada bahaya.

7.       Ruang Alhub dan Alkes (7) : memamerkan alat perhubungan dan alat kesehatan tahun 1945 sampai dengan 1950 yang dipergunakan pada perang kemerdekaan. Alat perhubungan seperti telepon Belanda, bateray radio, radio pemancar penerima TRT, pesawat induk TRT, pesawat penerima R.107, pemancar BC-191 N, pesawat pemancar dan penerima HF 156, pesawat pemancar dan penerima WS-19.
Alat-alat kesehatan yang dipamerkan seperti alat-alat operasi, pertolongan pertama/medis secara darurat dari Dr. Irsan dan Dr. Mustopo.
8.       Ruang Perang Kemerdekaan (8,9,10) : menempati tiga ruang yang memamerkan berbagai senjata api, perlengkapan berbagai senjata api, perlengkapan perang, panji-panji TKR dan pakaian penyamaran/seragam TKR yang dipergunakan dalam menghadapi Agresi Milier Belanda Pertama 21 Juli 1947 dan Agresi Militer kedua 18 Desember 1948.Agresi militer I berakhir dengan perjanjian Renville yang diataati TNI dengan melakukan hijrah meninggalkan pos-pos yang dikuasainya. Sedangkan Agresi Militer II mengakibatkan pemimpin-pemimpin RI ditangkap dan diasingkan. Disisi lain pasukan TNI melakukan gerilya dan wingate menuju kantong-kantong pertahanan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Akhirnya Belanda mengakiri dengan Perjanjian Roem-Royen, selanjutnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda mengakui kedaulatan RI atas wilayah yang dahulu disebut Hindia Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

9.       Ruang Panji-panji (11) : Ruang khusus yang memamerkan benda-benda koleksi berupa bendera nasional, bendera Internasional (PBB) dan lambang-lambang kesatuan di lingkungan TNI AD seperti Pataka, Dhujana, Sempana, Tunggul, Pathola.



















10.   Ruang Gamad (12) : dipajang berbagai seragam TNI AD beserta Atributnya sejak tahun 1950 hingga sekarang.





















11.   Ruang Tanda-tanda kehormatan (13) : dipamerkan contoh tanda penghormatan berupa surat, medali, pita, wing terjun bagi prajurit TNI AD yang berjasa bagi bangsa dan negara RI.

12.   Ruang peristiwa-peristiwa (14, 15, 16) : menempati tiga ruang dengan menampilkan beberapa ancaman dan rongrongan radikal kiri (PKI) radikat kanan (DI/TII) serta separatisme (RMS) yang dapat ditumpas oleh TNI dan rakyat melalui operasi militer. Dipamerkan koleksi pakaian, peralatan, senjata api dan bendera yang ada hubungannya dengan Trikora/Komando Mandala pembebasan Irian Barat dan Operasi Seroja Timor Timur. 









































13.   Ruang Alat Peralatan (17) : terdapat koleksi benda-benda bersejarah berupa senjata-senjata, alat optik, alat perhubungan dan mesin IBM periode tahun 1950 yang saat itu merupakan peralatan standar maupun non standar.
















14.   Ruang Piagam Keutuhan TNI AD dan Kontingen Garuda ( 18 ) : dipamerkan perlengkapan yang dipergunakan dalam penandatanganan piagam keutuhan TNI AD (Koleksi kursi), tempat obor, dan photocopu naskah piagam), bagian penugasan internasional (pasukan kontingen garuda), photo-photo  pakaian dinas lapangan, baret dan senjata M.16.

15.   Ruang Pahlawan Revolusi (19) : memamerkan koleksi perlengkapan, seragam, lukisan, riwayat hidup dari 9 pahlawan Revolusi :
-          Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
-          Letjen TNI Anumerta R.Suprapto
-          Letjen TNI Anumerta MT. Haryono
-          Letjen TNI Anumerta S.Parman
-          Brigjen TNI Anumerta Donald Izacus Pandjaitan
-          Brigjen Seotojo Siswomihardjo
-          Kapten Czi Anumerta Piere Tendean
-          Brigjen TNI Anumerta Katamso
-          Kolonel Inf. Anumerta Sugiyono
Dipamerkan juga tongkat yang dipergunakan Jenderal Besar TNI A.H. Nasution akibat tertembak oleh gerombolan G.30 S/PKI
















16.   Ruang Penumpasan G.30 S/PKI (20) : penumpasan G.30 S/PKI dilakukan oleh pasukan Kostrad  yang dipimpin oleh Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto dan RPKAD dibawah pimpinan Kolonel Inf. Sarwo Edhi Wibowo serta unsur TNI lainnya. Gerakan penumpasan dilakukan di daerah Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur sedangkan di luar Jawa dilakukan oleh Kodam Setempat. Beberapa benda yang dipamerkan  yaitu perlengkapan militer Pangkostrad, perlengkapan militern Danrem RPKAD, senjata-senjata yang dipergunakan dalam operasi Trisula, serta beberapa senjata dan benda-benda hasil rampasan dari pemuda rakyat (underbouw PKI).
















17.   Halaman Gedung Museum : dipamerkan koleksi tank daa meriam, dihalaman belakang tank serta ruang bawah tanah, halaman samping kanan dipamerkan penangkis serangan udara dan torpedo.
   
Keberadaan Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama dikategorikan museum perjuangan maupun museum militer yang didalamnya mengandung nilai-nilai ’45 dan nilai-nilai TNI ’45 yang senantiasa harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda bangsa Indonesia. Selain itu Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama memberikan fungsinya sebagai tempat yang memberikan informatif, instruktif, edukati, dan rekeatif bagi masyarakat luas.