Thursday, January 22, 2015

Dharma Wiratama



MUSEUM PUSAT TNI ANGKATAN DARAT

 ”DHARMA WIRATAMA”



Pemberian nama museum ”Dharma Wiratama” mempunyai arti yaitu Dharma maksudnya perbuatan baik, sedangkan wiratama berarti prajurit utama. Kesimpulannya Dharma Wiratama adalah pengabdian semua kebaikan atau perbuatan luhur yang disumbangkan oleh prajurit utama TNI AD di bidang HANKAM baik senjata maupun amal bhaktinya di bidang non HANKAM kepada bangsa dan negara.
Keberadaan Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama dirintis oleh Dinas sejarah Angkatan Darat sejak tahun 1956 yang bernama Sejarah Militer Angkatan Darata (SMAD). Membangun museum Pusat TNI AD di Yogyakarta mengingat kota ini sebagai ibu kota negara masa perjuangan 1945. Rencana ini disetujui Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan
diijinkannya penggunaan Ndalem Brontokusuman 24 Yogyakarta sejak tahun 1959, kemudian dilanjutkan dengan Surat Keputusan Kasad Nomor Keputusan 760/9/1959 tanggal 8 September 1959 tentang pengesahan Museum TNI AD.
Tanggal 17 Juni 1968 lokasi museum dipindahkan ke gedung bekas tempat tinggal Pangsar Jenderal Sudirman, namun gedung tersebut direncanakan sebagai Museum Sasmitaloka Pangsar Jenderal Sudirman, guna mengabadikan riwayat hidup dan perjuangan beliau. Selanjutnya akan dipindahkan ke bangunan Benteng Vredeburg, tetapi gedung tersebut akan digunakan sebagai taman budaya. Alternatif berikutnya menggunakan gedung bekas Makorem 72/Pamungkas, pemilihan ini didasarkan faktar sejarah TNI AD di mana gedung tersebut pernah digunakan sebagai markas besar TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di masa perang kemerdekaan sebagai museum pusat TNI AD dengan nama ”Dharma Wiratama”. Sesuai surat perintah nomor Spin/823/V/1980 tanggal 27 Mei 1980 tentang pengesahan gedung bekas Korem 72/pamungkas Museum Pusat TNI AD, maka pada tanggal 29 Mei 1980 jam 10.00 WIB dilakukan serah terima dari Pangdam VII/Diponegoro kepada Kadisjarahad di Yogyakarta.
Sebelum 15 Agustus 1985 pengelolaan Geduang oleh Dinas Sejarah TNI AD, tetapi sejak Surat Keputusan Kasad Nomor Kep/25/VII/1985 tanggal 15 Agustus 1985 tentang likuidasi Dinas Serajah TNI AD menjadi Dinas Pembinaan Mental TNI Angkatan Darat (Disbintalad), maka pengelolaan oleh unit kerja Bagmuseum Subdisbin Musmontra Disibintalad.


Gedung Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama mempunyai nilai historis yang tinggi. Dibangun tahun 1904 pada masa pemerintahan Hindia Belanda merupakan tempat tinggal pejabat administratur perkebunan Belanda yang membawahi wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Pada pendudukan Jepang 1942 gedung tersebut dipergunakan sebagai markas tentara Jepang di daerah Yogyakarta disebut Syudokan.
Pada pemerintahan Republik Indonesia  (awal kemerdekaan) gedung ini dijadikan markas tinggi TKR (MT TKR/MBT). Kemudian tanggal 12 November 1945 sebagai tempat konferensi TKR dan memiliki Kolonel Sudirman Komandan Divisi V Kedu/Banyumas sebagai Panglima Besar TKR.
Perkembangannya gedung tersebut dijadikan markas Korem 72/Pamungkas dan sebagai saksi bisu peristiwa penculikan Danrem 72/Pamungkas Kolonel Inf. Katamso dan Kasrem 72/Pamungkas Letkol Inf. Sugiyono oleh pemerintak G 30 S PKI 1965 di Yogyakarta.

A.    Bagian-bagian Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama

Benda koleksi Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama berjumlah 4.236 benda koleksi dari jenis logam, kayu, kulit, kertas, dan kain yang dipamerkan dalam 20 ruangan.
Ruang-ruang :
1.       Ruang Pengantar (1), tempat mengantar pemikiran para pengunjung untuk memahami nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemderdekaan. Benda yang dipamerkan : lukisan Kasad tahun 1947 Kol GPH Djati Kusumo sampai sekarang (2007), sejarah kronologis perlawanan bangsa Indonesia penjajah (1511-1945), sejarah kronologis perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut menegakkan dan mengisi kemerdekaan (1945-1979), skema perkembangan dan perjuangan TNI AD. Serta prasasti tanda diresmikan Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama tahun 1982 oleh Kasad Jenderal TNI Poniman.


2.       Ruang Pangsar Jenderal Sudirman (2): Konferensi TKR pada 12 November 1945 telah memilik Kolonel Sudirman sebagai Panglima Besar TKR, kemudian tanggal 18 Desember 1945 Presiden Sukarno melantiknya di Istana Yogyakarta. Benda yang dipamerkan adalah benda-benda yang dipergunakan pada waktu itu seperti meja kursi, pesawat telepon, meja kursi tamu dan wastafel.
3.       Ruang Letjen Oerip Sumoharjo (3) : beliau diangkat sebagai Kepala Staf Umum MT TKR pada tanggal 15 Oktober 1945, sedangkan Panglima TKR adalah Shodanco Supriyadi. Semenjak diangkat tidak diketahui rimbanya maka diangkatlah Oerip Sumoharjo sebagai Kepala Staf Umum TKR mendampingi Kolonel Sudirman yang terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Benda-benda yang dipamerkan : meja kursi,pesawat telepon dan meja kursi tamu.


4.       Ruang Palagan (4) : menggambarkan sejarah perjuanagn bangsa Indoensia untuk mempela dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dari ancaman bangsa asing yang akan menjajah kembali. Pertempuran melawan Sekutu (Belanda, Australia, Inggris), dan Jepang yang tidak menghormati kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Beberapa pertempuran/palagan diantaranya :
Palagan Medan, disebut Medan Area pada bulan Oktober 1945 sampai agresi Belanda petama 21 Juli 1947.
Palagan Palembang, disebut Pertempuran 5 hari 5 malam di sepanjang sungai Musi tanggal 1 sampai dengan 5 Januari 1947.
Palagan Bandung, disebut Bandung lautan Api pada akhir Nopember 1945 sampai dengan  24 Maret 1946.
Palagan Semarang, disebut Pertempuran 5 hari di Semarang melawan Jepang pada tanggal 15 sampai dengan 19 Oktober 1945.
Palagan Ambarawa,  yang diawali dikuasainya kota Ambarawa pada tanggal 15 Desember 1945.
Palagan Surabaya, merupakan puncak pertempuran arek-arek Surabaya pada tanggal 10 Nopember 1945 yang sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Palagan Bali, dikenal Perang Puputan atau  Marga Rana yaitu bertempur sampai titik darah penghabisan pada tanggal 20 Nopember 1946.
Palagan Makassar, dikenal dengan korban 40.000 jiwa pada bulan Oktober 1945 sampai dengan April 1946 sebagai akibat kekejaman Belanda.

5.       Ruang Senjata Modal Perjuangan Kemerdekaan (5) : dipamerkan berbagai senjata sebagai modal perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan dan menegakkan kemerdekaan.Senjata-senjata berupa senjata tradisional seperti bambu runcing, tombak, keris, kelewang, panah, ganco, petel, ketapel, dan lain-lainnya. Senjata-senjata buatan sendiri seperti granat gamyok, stengun, meriam kecepek, senjata rampasan dari Jepang dan Belanda seperti granat nanas, pistol mouser dan sebagainya. 

6.       Ruang dapur umum (6) : menampilkan dapur umum yang dipergunakan untuk memasak makanan oleh rakyat untuk membantu logistik bagi para pejuang yang berada di garis depan pertempuran.Peralatan sangat sederhana seperti kukusan, dandang, kekep, tenggok dan sebagainya. Dapur umum dilengkapi dengan alat komunikasi berupa kentongan yang berfungsi sebagai alat menghubungkan pengumpulan massa serta tanda bila ada bahaya.

7.       Ruang Alhub dan Alkes (7) : memamerkan alat perhubungan dan alat kesehatan tahun 1945 sampai dengan 1950 yang dipergunakan pada perang kemerdekaan. Alat perhubungan seperti telepon Belanda, bateray radio, radio pemancar penerima TRT, pesawat induk TRT, pesawat penerima R.107, pemancar BC-191 N, pesawat pemancar dan penerima HF 156, pesawat pemancar dan penerima WS-19.
Alat-alat kesehatan yang dipamerkan seperti alat-alat operasi, pertolongan pertama/medis secara darurat dari Dr. Irsan dan Dr. Mustopo.
8.       Ruang Perang Kemerdekaan (8,9,10) : menempati tiga ruang yang memamerkan berbagai senjata api, perlengkapan berbagai senjata api, perlengkapan perang, panji-panji TKR dan pakaian penyamaran/seragam TKR yang dipergunakan dalam menghadapi Agresi Milier Belanda Pertama 21 Juli 1947 dan Agresi Militer kedua 18 Desember 1948.Agresi militer I berakhir dengan perjanjian Renville yang diataati TNI dengan melakukan hijrah meninggalkan pos-pos yang dikuasainya. Sedangkan Agresi Militer II mengakibatkan pemimpin-pemimpin RI ditangkap dan diasingkan. Disisi lain pasukan TNI melakukan gerilya dan wingate menuju kantong-kantong pertahanan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Akhirnya Belanda mengakiri dengan Perjanjian Roem-Royen, selanjutnya Konferensi Meja Bundar di Den Haag Belanda mengakui kedaulatan RI atas wilayah yang dahulu disebut Hindia Belanda pada tanggal 27 Desember 1949.

9.       Ruang Panji-panji (11) : Ruang khusus yang memamerkan benda-benda koleksi berupa bendera nasional, bendera Internasional (PBB) dan lambang-lambang kesatuan di lingkungan TNI AD seperti Pataka, Dhujana, Sempana, Tunggul, Pathola.



















10.   Ruang Gamad (12) : dipajang berbagai seragam TNI AD beserta Atributnya sejak tahun 1950 hingga sekarang.





















11.   Ruang Tanda-tanda kehormatan (13) : dipamerkan contoh tanda penghormatan berupa surat, medali, pita, wing terjun bagi prajurit TNI AD yang berjasa bagi bangsa dan negara RI.

12.   Ruang peristiwa-peristiwa (14, 15, 16) : menempati tiga ruang dengan menampilkan beberapa ancaman dan rongrongan radikal kiri (PKI) radikat kanan (DI/TII) serta separatisme (RMS) yang dapat ditumpas oleh TNI dan rakyat melalui operasi militer. Dipamerkan koleksi pakaian, peralatan, senjata api dan bendera yang ada hubungannya dengan Trikora/Komando Mandala pembebasan Irian Barat dan Operasi Seroja Timor Timur. 









































13.   Ruang Alat Peralatan (17) : terdapat koleksi benda-benda bersejarah berupa senjata-senjata, alat optik, alat perhubungan dan mesin IBM periode tahun 1950 yang saat itu merupakan peralatan standar maupun non standar.
















14.   Ruang Piagam Keutuhan TNI AD dan Kontingen Garuda ( 18 ) : dipamerkan perlengkapan yang dipergunakan dalam penandatanganan piagam keutuhan TNI AD (Koleksi kursi), tempat obor, dan photocopu naskah piagam), bagian penugasan internasional (pasukan kontingen garuda), photo-photo  pakaian dinas lapangan, baret dan senjata M.16.

15.   Ruang Pahlawan Revolusi (19) : memamerkan koleksi perlengkapan, seragam, lukisan, riwayat hidup dari 9 pahlawan Revolusi :
-          Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
-          Letjen TNI Anumerta R.Suprapto
-          Letjen TNI Anumerta MT. Haryono
-          Letjen TNI Anumerta S.Parman
-          Brigjen TNI Anumerta Donald Izacus Pandjaitan
-          Brigjen Seotojo Siswomihardjo
-          Kapten Czi Anumerta Piere Tendean
-          Brigjen TNI Anumerta Katamso
-          Kolonel Inf. Anumerta Sugiyono
Dipamerkan juga tongkat yang dipergunakan Jenderal Besar TNI A.H. Nasution akibat tertembak oleh gerombolan G.30 S/PKI
















16.   Ruang Penumpasan G.30 S/PKI (20) : penumpasan G.30 S/PKI dilakukan oleh pasukan Kostrad  yang dipimpin oleh Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto dan RPKAD dibawah pimpinan Kolonel Inf. Sarwo Edhi Wibowo serta unsur TNI lainnya. Gerakan penumpasan dilakukan di daerah Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur sedangkan di luar Jawa dilakukan oleh Kodam Setempat. Beberapa benda yang dipamerkan  yaitu perlengkapan militer Pangkostrad, perlengkapan militern Danrem RPKAD, senjata-senjata yang dipergunakan dalam operasi Trisula, serta beberapa senjata dan benda-benda hasil rampasan dari pemuda rakyat (underbouw PKI).
















17.   Halaman Gedung Museum : dipamerkan koleksi tank daa meriam, dihalaman belakang tank serta ruang bawah tanah, halaman samping kanan dipamerkan penangkis serangan udara dan torpedo.
   
Keberadaan Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama dikategorikan museum perjuangan maupun museum militer yang didalamnya mengandung nilai-nilai ’45 dan nilai-nilai TNI ’45 yang senantiasa harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda bangsa Indonesia. Selain itu Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama memberikan fungsinya sebagai tempat yang memberikan informatif, instruktif, edukati, dan rekeatif bagi masyarakat luas.

Kasultanan Yogyakarta



KRATON KASULTANAN YOGYAKARTA


Kraton Kasultanan Yogyakarta terletak di jantung kota Yogyakarta tepatnya di sebelah selatan alun-alun utara Yogyakarta. Pada mulanya kraton ini digunakan sebagai tempat tinggal raja Kasultanan Yogyakarta dan sebagai pusat pemerintahan. Pada saat ini, Sultan tidak lagi tinggal di dalam komplek kraton tetapi tinggal di komplek taman sari.

Secara garis besar bangunan kraton dibagi atas tujuh halaman dan masing-masing halaman mempunyai bangunan yang mempunyai kegunaan tersendiri. Halaman-halaman tersebut antara lain :

A.    Halaman Sitihinggil Utara

Adalah halaman paling depan yang digunakan untuk pertemuan antara sultan dengan  pejabat kerajaan.
Bangunan-bangunan yang berada di halaman ini adalah :
1.      Bangsal Pagelaran (bangunan untuk pelaksanaan upacara Garebeg),
2.      Bangsal Pemandengan (tempat duduk sultan beserta panglima perang dalam mengamati lagihan perang),
3.      Bangsal Pangapit (tempat pertemuan senopati perang),
4.      Bangsal Pangrawit (tempat raja melantik patih),
5.      Bangsal Pacikeran (tempat jaga abdi dalem),
6.      Bangsal Sitihinggil (tempat penobatan raja dan pertemuan besar),
7.      Bangsal Manguntur Tangkil (tempat singgasana raja ketika upacara penobatan),
8.      Bangsal Witana (tempat menyimpan pusaka utama kraton),
9.      Balebang (tempat menyimpan gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nagawilaga),
10.  Bale Angun-angun (tempat meyimpan pusaka Kyai Sura Angun-angun),
11.  Bangsal Kori (tempat jaga abdi dalem),
12.  Tarub Agung (ruang tunggu),
13.  Regol Brojonolo (pintu gerbang).

B.     Halaman Kemandungan Utara

Bangunan-bangunan yang terdapat dalam halaman kemandungan utara adalah:
1.      Bangsal Ponconiti (ruang sidang pengadilan kraton),
2.      Bangsal Pacaosan (tempat jaga abdi dalem kraton),
3.      Regol Sri Manganti (pintu gerbang menuju bangsal Sri Manganti).

C.    Halaman Bangsal Sri Manganti

Bangunan-bangunan yang terdapat dalam halaman ini adalah :
1.      Bangsal Sri Manganti (tempat sultan menyambut tamu penting),
2.      Bangsal Trajumas (tempat pejabat istana menyambut tamu penting),
3.      Arca Raksasa Dwarapala,
4.      Regol Danapratapa (pintu gerbang ke halaman bangsal kencana).

D.    Halaman Pusat Kraton

Bangunan-bangunan dalam halaman pusat kraton adalah :
1.      Gedhong Purwaretna (kantor Kawedanan Ageng Sri Wandawa),
2.      Gedhong Kuning (kantor pribadi Sri Sultan Hamengku Buwana X),
3.      Bangsal Kencana (tempat singgasana raja dalam kesehariannya),
4.      Bangsal Prabayeksa (tempat menyimpan pusaka kraton),
5.      Bangsal Manis (tempat perjamuan keluarga istana),
6.      Kaputren (tempat tinggal putri-putri raja yang belum menikah),
7.      Masjid Panepen (tempat ibadah keluarga istana),
8.      Kraton Kilen (rumah keluarga Sri Sultan Hamengku Buwana X),
9.      Gedhong Kantor Pejabat Kantor,
10.  Bangsal Mandalasana (tempat pentas acara penting),
11.  Bangsal Kotak (tempat penari menunggu giliran berpentas),
12.  Bangsal Gangsa (ruang menyiman gamelan kraton),
13.  Kasatriyan (tempat tinggal putra-putra sultan yang belum menikah),
14.  Gedhong Kaca (bangunan baru untuk museum kraton),
15.  Gedhong Danartapura (kantor tata usaha kraton),
16.  Gedhong Patehan (tempat membuat minuman untuk keluarga raja),
17.  Regol Kemagangan (pintu gerbang ke halaman kemagangan).

E.     Halaman Kemagangan

Bangunan-bangunan yang berada dalam halaman ini adalah :
1.      Bangsal Kemagangan (tempat upacara Bedhol Songsong),
2.      Panti Pareden (tempat dibuatnya tumpeng gunungan sekaten),
3.      Regol Gadung Mlati (pintu gerbang ke halaman kemandungan selatan).

F.     Halaman Kemandungan Selatan

Bangunan yang berada dalam halaman ini adalah :
1.      Bangsal Kemandungan,
2.      Bangsal Pacaosan (tempat jaga di bagian selatan),
3.      Regol Kamandungan (pintu gerbang ke halaman sitihinggil selatan).

G.    Halaman Sitihinggil Selatan.

Di dalam halaman ini terdapat Bangsal Sasana Hinggil yang telah dipugar  pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana X (tahun 1956) dalam rangka peringatan 200 tahun berdirinya Kraton Yogyakarta.


SEJARAH BERDIRINYA KASULTANAN YOGYAKARTA


Secara garis besar Kerajaan Mataram Islam telah mengalami beberapa reorganisasi dengan berpindahnya pusat kerajaan dari daerah Kotagede  ke daerah Plered pada tahun 1578 kemudian ke daerah Kartasura pada tahun 1704 dan ke daerah Solo (Surakarta) pada tahun 1744. Perpindahan pusat kerajaan tersebut disebabkan karena adanya tekanan-tekanan politik dan ancaman keamanan dari pihak luar serta perebutan tahta kerajaan.
Ketika pusat kerajaan masih berada di Kartasura terjadi suatu pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang China  pada tahun 1940–1943 yang kemudian sering diistilahkan “Geger Pecinan”. Untuk meredam pemberontakan tersebut Sunan Paku Buwana II meminta bantuan kepada VOC. Meskipun pemberontakan dapat diatasi tetapi kerajaan di Kartasura mengalami kerusakan parah sehingga dipindahkan di daerah Sala yang kemudian dinamakan Surakarta. Atas jasa VOC tersebut, maka pada tanggal 11 Desember 1949 Sunan Paku Buwana II menandatangani surat penyerahan Mataram kepada VOC dan empat hari kemudian sunan meninggal dunia.
Kasultanan Yogyakarta merupakan pusat pemerintahan yang dibangun dan didirikan berdasarkan hasil perjanjian Giyanti pada tanggal 12 Pebruari 1755. Adanya perjanjian tersebut dilatarbelakangi oleh pertentangan antara Pangeran Mangkubumi yang mempunyai daerah lungguh Sukawati dengan Raden Mas Said di Surakarta. Dengan pembagian daerah kekuasaan atas dasar Perjanjian Giyanti tersebut Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja di Kasultanan Yogyakarta dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana.

Kraton Yogyakarta sebagai Pusat Pemerintahan dan Kebudayaan
Kraton adalah tempat tinggal raja atau ratu. Demikian juga kadhaton yang berarti tempat tinggal datu atau raja. Fungsi Kraton Yogyakarta adalah sebagai tempat tinggal raja, sebagai pusat pemerintahan, pusat kebudayaan, tempat pariwisata, kegiatan ilmu pengetahuan dan lain-lain. Dalam melakukan pemerintahannya, Sultan dibantu oleh beberapa pangeran dan abdi dalem sedangkan setiap pangeran diserahi tugas untuk memimpin sebuah kantor. Dalam menjalankan tugasnya seorang pangeran dibantu oleh seorang wakil yang berpangkat bupati. Menurut Sartono Kartodirdjo (1993) sistem pemerintahan di dalam kerajaan Mataram-Surakarta–Yogyakarta adalah sebagai berikut:

“Raja dibantu oleh Patih sebagai Wadana (kepala) golongan kepatihan atau pegawai pamong praja, sedang untuk urusan keagamaan dibantu oleh Panghulu Gede atau Wadana Kaum, atau Wadana Mutihan atau golongan pangulon. Golongan prajuritan dipimpin oleh seorang bupati, adakalanya oleh seorang pangeran. Di lingkungan kraton ada delapan Bupati Nayaka, mereka merupakan semacam dewan kerajaan yang memberikan nasihat kepada raja.”

Berdasarkan aturan tentang struktur pemerintahan Kraton Yogyakarta yang ditetapkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 8 Nopember 1999, kantor yang ada di kraton terdiri dari beberapa badan yang masing-masing mempunyai tugas dan wewenang yang berbeda.

Kantor-kantor tersebut antara lain :
1.      Kawedanan ageng punokawan parwa budaya, merupakan bentuk gabungan dari:
Kawedanan ageng punokawan krida mardawa
Kawedanan pengulon
Kawedanan puralaya
Kawedanan kaputren

2.      Kawedanan ageng punokawan nityo budaya, merupakan bentuk gabungan dari :
Kawedanan ageng punokawan widya budaya
Kawedanan punokawan purayakara
Tepas banjar wilapa
Tepas museum
Tepas pariwisata

3.      Kawedanan ageng punokawan parasraya, dibentuk dari gabungan :
Kawedanan ageng punokawan wahana sarya kriya
Kawedanan ageng punokawan puraraksa
Tepas Panitikisma
Tepas keprajuritan
Tepas halpitapura
Tepas security

4.      Kawedanan ageng panitra pura, dibentuk dari gabungan :
Parentah ageng
Kawedanan ageng sri wandawa
Tepas dwarapura
Tepas darah dalem
Tepas rantam harta
Tepas danarta pura
Tepas witardana

Keterangan :
Kawedanan ageng punokawan, adalah badan yang melaksanakan sebagaian pemerintahan kraton yang bersifat teknis operasional.
Kawedanan ageng, adalah badan yang melaksanakan sebagian pemerintahan kraton yang bersifat administrasi fungsional.
Kawedanan, adalah pelaksana tekhnis operasional.
Tepas, adalah pelaksana tekhnis administrasi.
Parentah ageng, adalah badan yang bertugas menyampaikan semua perintah sultan kepada semua abdi dalem dan menyampaikan permintaan abdi dalem yang ditujukan kepada sultan.


Lambang kerajaan berupa benda-benda yang selalu dikeluarkan pada upacara-upacara resmi dan selalu menyertai sultan disebut sebagai Ampilan Dalem. Benda-benda ini dibuat dari emas dan ulasannya dibawa oleh 8 orang abdi dalem perempuan, masing-masing bertugas membawa benda yang berbentuk :
1.      Banyak / angsa adalah simbol kesucian dan kewaspadaan.
2.      Dhalang / khijang adalah simbol kegesitan dan kebijaksanaan.















3.      Sawung atau ayam jantan adalah simbol keberanian.
4.      Merak adalah simbol kewibawaan.
5.      Naga adalah simbol penyangga atau pembawa dunia.
6.      Sapu tangan emas adalah simbol dari penghapus segala kotoran, baik jasmaniah maupun rohaniah.
7.      Kutuk atau kotak merupakan simbol dari daya pemikat atau penarik.
8.      Kandhil merupakan simbol dari penerangan di hati rakyat.